Hari Pangan Sedunia (HPS) diperingati setiap tahun setiap tanggal 16 Oktober, yakni bertepatan dengan tanggal ketika Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa, didirikan pada tahun 1945.

Gereja-gereja Katolik di Indonesia melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pun turut aktif memperingatinya. Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi KWI menentukan tema HPH 2024 yakni ‘Aku Lapar, Kamu Memberi Aku Makan”.
Tuhan Yesus ingin bersama saudara-saudari kita yang lapar, haus dan terasing. Ia memanggil kita untuk ikut mengambil bagian dalam memberi makanan dan minuman kepada saudara-saudari kita yang lapar dan haus. Kita sadar bahwa kemampuan kita untuk dapat memberi makan sangat tergantung kepada siapa yang dapat menyediakan makanan kita setiap hari. Saatnya kita secara khusus menyadari dan mengapresiasi peran para petani dan nelayan, yang memastikan ketersediaan bahan pangan bagi kita semua.
Pada tahun 2050, pertumbuhan penduduk sebesar 2 miliar. Kebutuhan ketersediaan pangan dunia akan meningkat 28% dari sekarang. Sementara lahan pertanian terus berkurang dan perubahan iklim menghambat produksi pertanian.
Tambahan pula 9% tanaman pangan saat ini digunakan untuk memproduksi bahan bakar nabati yang hanya berkontribusi sedikit pada pasokan pangan dunia. (Sumber: Leaflet HPS 2024)
Apa yang harus kita lakukan?
Penggandaan produksi pangan dengan menambah lahan pertanian tidaklah mungkin. Diversifikasi hutan tropis menjadi lahan pertanian akan menimbulkan dampak lingkungan yang semakin buruk. Adanya perubahan iklim, kelangkaan sumber air, perubahan pola konsumsi makanan masyarakat menuntut adanya pendekatan-pendekatan Inovatif dan aksi kolaboratif..
Bertanam Pangan dari Pekarangan

Bapak Bimo, salah seorang umat di lingkungan FA, Paroki Santo Matheus Depok mengoptimalkan lahan kosong di sekitar tempat tinggalnya dalam menjaga ketahanan pangan dari sisi produksi paling mikro. Bapak Bhimo menanam sejumlah tanaman pangan di halaman rumah dan lahan di sebelah rumahnya yang tidak dimanfaatkan atau idle. “Saya selama ini kebetulan memanfaatkan lahan fasilitas umum RW di komplek saya yang nganggur dengan menanam palawija, sayuran dan buah-buahan. Hasilnya selain bisa dinikmati sendiri juga bisa dibagikan ke tetangga kanan kiri juga ke teman-teman,” ujar Bapak Bimo saat membagikan pengalamannya.


Fasum disekitar rumah Bapak Bimo kebetulan juga memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai lahan produktif dengan membuat kolam ikan di atas saluran air karena batas pagar sampai jalan ada lahan selebar 2,5 meter. Hasil dari kolam tersebut pernah dikomersialkan dan beberapa pelanggannya adalah umat Matheus. “Namun saat ini saya sudah lebih fokus untuk berbagi buat yang kepingin dan baik tetangga maupun teman-teman,” tambah Bapak Bimo.
Kolam ikan patin dan ikan lele di pekarangan rumah Bapak Bimo dan fasum juga sejumlah tanaman pangan seperti pisang, singkong, durian, rambutan, duku, nangka. Ada juga sayur-sayuran yakni lembayung, kangkung, caisim, cabe dan terong di pekarangan dan lahan fasum RW Komplek di sebelah rumah Bapak Bimo.



Manyambut Hari Pangan Sedunia, Kardinal Suharyo: Menghargai Pangan Lokal, Memartabatkan Petani dan Nelayan
USKUP Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo menyambut Hari Pangan Sedunia tahun 2024 mengeluarkan Surat Gembala. Dalam Surat Gembala ini, Kardinal, antara lain mengajak umat Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) peduli kepada para petani.
“Kita dapat mulai dari hal-hal kecil dan sederhana di dalam keluarga kita masing-masing, di dalam komunitas, di lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja kita,” kata Kardinal. (Sumber: www.hidupkatolik.com)
Hal-hal sederhana dapat kita lakukan, misalnya:
Pertama, penyadaran pentingnya menghargai makanan. Ini dapat dilakukan di dalam keluarga, sekolah, kegiatan pendidikan iman anak dan remaja, pertemuan lingkungan, paroki, kelompok-kelompok kategorial, warga.
Kita perlu terus-menerus mempromosikan keanekaraman makanan lokal yang sehat, tidak membuang makanan, berbagi makanan berlebih dengan saudara-saudari yang lapar, tidak menimbun makanan di rumah, dan lain-lain. Kita dapat mempomosikan kebiasaan-kebiasaan dan praktik-praktik baik dalam menghargai makanan dan petani misalnya lewat lomba membuat konten media sosial dan mempublikasikannya. Kedua, kita dapat mengembangkan ketahanan dapur keluarga dengan menanam tanaman pangan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, bawang, cabai, di pekarangan rumah, dengan pot-pot atau inovasi pertanian perkotaan lainnya. Ketiga, kita dapat membantu pengembangan pemberdayaan para petani, peternak dan nelayan lewat berbagai cara, bisa berupa pemberian bantuan peralatan usaha, inovasi teknologi pertanian, pemasaran yang adil dan lain-lain.
Ketua Komisi Ekologi Keuskupan Bogor RD Bonifasius Heribertus mengajak seluruh Paroki di Keuskupan Bogor turut bergerak bersama mengisi Hari Pangan Sedunia pada Minggu, 20 Oktober 2024 dengan hal-hal lain terkait dengan ketahanan pangan dan mempromosikan keanekaragaman makanan lokal pendamping beras. Hal ini sekeligus mengisi HUT-75 Keuskupan Bogor.
Penulis: Berliana Elisabeth


