Seminar Keluarga “SADAR GENDER: Setara tapi Beda”

0
246

Minggu 23 Oktober 2022 di Aula Maria Goreti Gereja St. Matheus diadakan Seminar Keluarga berjudul “Sadar Gender: Setara tapi Beda” yang diadakan oleh Seksi Kerasulan Keluarga bekerjasama dengan WKRI Cabang St Matheus Depok, dibawakan oleh Narasumber RD.Alfonsus Sutarno,Pr. Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Bogor.  Seminar ini dihadiri oleh 76 umat Matheus, beberapa tamu dari paroki sekitar dan perwakilan SKK dari Keuskupan Bogor. MC Ibu Nita mengawali dengan bernyanyi bersama “ku cinta keluarga Tuhan”, Frater Vinsen membuka dengan doa pembukaan, kemudian Pastur Paroki Romo Jimmy memberikan sambutan dan membuka seminar ini. 

Romo Tarno mengawali seminar dengan penjelasan awal “hakikat ciptaan yang diberi nama Manusia” dalam kejadian 5:2 dan empat hal mengapa manusia adalah ciptaan yang penting menurut Kejadian 1 yatu karena manusia menjadi gambar, rupa dan Citra Allah, manusia adalah sosok yang terberkati, manusia sosok yang sungguh amat baik (Kid. 4,5) dan manusia mempunyai peran yang eksis sebagai laki-laki dan perempuan.

Kesetaraan Gender dalam Gereja Katolik

Kesetaraan gender, kesepadanan laki-laki dan perempuan dalam Gereja Katolik tidak hanya dimulai sejak jaman Kartini saja, tapi sejak dari jaman perjanjian lama dalam Kitab Kejadian. Perkawinan ditujukan bagi Bonum Commune (kebaikan bersama suami dan istri). Suami istri adalah satu daging yang bersatu melekat fisik dan batin, seksual badaniah dan cinta. Karena itu tercermin menjadi kearifan lokal yang disebut SADAPUR, SAKASUR, SASUMUR.  SADAPUR berarti semeja dan sehidangan, apa yang disantap suami itu yang disantap istri juga agar sehat bersama. SAKASUR adalah relasi yang unik istimewa dan intim antara suami dan istri, bisa berarti juga apa yang dialami istri juga dialami suami, misalnya saat istri mengandung anak, suami juga turut menjaga dan membantu. SASUMUR berarti mencari kesejahteraan dan materi bagi kepentingan keluarga bersama.

Martabat seksualitas dan jenis kelamin

Seksualitas dan jenis kelamin memberi ciri dan jati diri pada manusia sebagai pria dan wanita.  Karena itu martabak heteroseksual yang berbeda ini dikehendaki Allah. Laki-laki dan perempuan bermartabat pribadi karena mempunya martabat sebagai pribadi, ia ‘bukan sesuatu’ melainkan ‘seseorang’, ia mampu mengenali diri sendiri dan menjadi tuan atas dirinya sebab karena rahmat ia sudah dipanggil dalam perjanjian dengan penciptanya.  Manusia jangan menjadi seperti tumbuhan pada fase vegetatif yang hidup tapi diam dan pasif saja. Atau seperti hewan yang bertindak berdasarkan insting saja tanpa menghargai menghormati dan mencintai pasangannya.

Martabat Perkawinan dan Keluarga

Karena manusia bermartabat sama, setara dan mempunyai pribadi maka perkawinan yang menyatukan suami istri menjadi kesatuan yang paling luhur dan terhormat. Makna keluarga  adalah ruang kehidupan keluarga yang bisa menjadi gereja rumah tangga, tempat Ekaristi dan kehadiran Kristus. Menjadi rumah yang dihiasi kehadiran Allah, Berkat dan kebersamaan dalam doa. Suami istri ketika menjadi orangtua maka mempunyai peran menjadi guru iman pertama dan utama bagi anak-anak. Keluarga menjadi peletak dasar jati diri kepribadian anak, lingkungan primer dimana anak dikandung, dilahirkan, dididik dan bertumbuh kembang. Ada banyak faktor yang bisa membentuk pribadi seseorang yaitu Raga, Rasa, Roh dan Keyakinan. Maka satu-dua hal saja yang berbeda dalam konteks raga atau rasa misalnya penampilan, hobi maupun kebiasaan, tidak selalu menjadikan seorang pria atau wanita menyimpang dan tidak normal.

Ada beberapa pertanyaan dari peserta soal hukum kodrat yang tidak bisa berubah dan kebiasaan adat istiadat budaya yang bisa bergeser mengenai posisi gender laki-laki perempuan dałam masyarakat, pertanyaan tentang pendidikan anak menghadapi remaja yang sulit atau diam, kemudian cara mendidik anak menurut kebiasaan jenis kelamin (membedakan jenis mainan, penampilan pakaian dan tugas-tugas dalam rumah tangga), dan juga ada pertanyaan tentang bergesernya peran pasutri sebagai fenomena jaman sekarang dimana perempuan tidak lagi melahirkan secara sakit alami melainkan caesar pembiusan, dan ada suami yang tidak bekerja keras mencari nafkah formal melainkan mengurus tugas domestik dan merawat anak di rumah. Ada juga pertanyaan lucu soal “Sakasur” apakah sebelum berhubungan suami istri harus berdoa dulu?… Romo Tarno menjawab semua pertanyaan itu secara jenaka dan bijaksana sehingga seluruh peserta sangat menikmati dan mendapat banyak manfaat dari seminar ini.

Romo Tarno memberikan kesimpulan: Perbedaan laki-laki dan perempuan sangat sungguh baik dan memiliki perbedaan yang khas. Maka kekhasan itu menjadi panggilan untuk menyatu dan menghasilkan keturunan bagi berkembangnya kerajaan Allah dan pewartaan gereja. Maupun kesatuan dan kesejahteraan hidup Umat Allah. Seminar ditutup dengan pemberian suvenir ucapan Terima Kasih dari Pastor Paroki Romo Jimmy kepada Narasumber Romo Tarno. Dan juga kejutan kecil dari DKP, panitia penyelenggara dan OMK  untuk Ulang Tahun Kelahiran Romo Jimmy pada tanggal 21 Oktober kemarin. Pemberian hadiah kejutan diwakili Koordinator Bidang Koinonia Bp. Agung Kurniawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here