Sejarah Perjalanan Paroki Santo Matheus Depok

0
758
Sejarah Perjalanan Gereja Santo Matheus
Sejarah Perjalanan Gereja Santo Matheus

DARI STASI MENJADI PAROKI

Berhimpunnya Umat Perdana
 

April 1979

 

Kawasan Perumnas di Depok II Tengah mulai dihuni, mayoritas penduduk PNS & ABRI. Secara geografis Depok 2 Tengah berada di sebelah kanan Sungai Ciliwung, sesuai peta pelayanan jemaat & paroki di Keuskupan Bogor, reksa pastoralnya berada di bawah Paroki Cibinong.

 

Mei/Juni 1979

 

Keluarga Katolik berdatangan dan masih mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja St. Paulus Jl. Melati Depok Lama, yang merupakan Gereja Katolik terdekat dan satu-satunya di Depok saat itu.

 

Juli 1979

Romo R.J. Koesnen
Romo R.J. Koesnen
 

Muncul inisiatif untuk menghimpun umat Katolik di Depok Tengah. Atas dukungan Romo R.J. Koesnen OFM (Pastor Paroki St. Paulus) dilakukan pertemuan di rumah Bp. RJ. Suhardji di Jl. Rebab I No.232 Depok Tengah, dihadiri oleh 16 orang warga Katolik. Terbentuklah pengurus sementara, Bp. RJ. Suhardji sebagai Ketua, Bp. Supardi sebagai Sekretaris dan Ibu Sukotjo Bendahara.

Misa perdana dilakukan di rumah keluarga Bp. RJ. Suhardji, dipimpin oleh Romo R.J Koesnen OFM. Misa kedua dilakukan di rumah keluarga Bp. Sukoco di Jl. Beringin Depok Tengah, dipimpin oleh Romo J. Suparman Pr, pastor dari Paroki Keluarga Kudus Cibinong, yang juga menjabat sebagai Vikjen Keuskupan Bogor.

 

21  September 1979

 Romo B Sudjarwo Pr
Romo B Sudjarwo Pr

 

 

 

Pertemuan kembali Wakil Umat Katolik penghuni Perumnas Depok II Tengah bersama Rm. Koesnen OFM dan Rm. Benedictus Sudjarwo Pr (Alm.) (Pastor Paroki Cibinong).

Disepakati membagi Wilayah Depok Tengah menjadi 4 Kelompok: Kelompok I umat yang tinggal di nama jalan kerajaan dan tarian. Kelompok II nama jalan alat musik, Kelompok III nama jalan pepohonan dan kelompok IV nama jalan wayang. Reksa pastoral dipercayakan kepada Rm. R.J Koesnen OFM.

 

29  November 1979

 

Rm B. Sudjarwo Pr (Pastor Paroki Cibinong) menetapkan Depok II Tengah sebagai Lingkungan St. Matheus, bagian dari Paroki Cibinong.

 

1979 – 1981

 

Pengurus Lingkungan Periode 1979 – 1980: Bp. RY. Suhardji (Ketua), Bp. Supardi (Sekertaris), Ibu Sukotjo (Bendahara).

Pengurus Lingkungan Periode 1980 – 1981: Bp. St. Yos Sutardjo (Ketua), Bp. FX. Supandi (Sekertaris I), Bp. F.B. Sahlan (Sekretaris II), Ibu Supardi (Bendahara I), Bp. Sukotjo (Bendahara II).


 

Misa Kudus dilakukan bergantian di rumah umat, antara lain di Rumah Bp. Mulyono di Jl. Kresna, Rumah Bp. Martinus Roeswanto di Jl. Kolintang I dan Rumah Bp. Muryanto di Jl. Kolintang II.

Umat sesekali melaksanakan Misa Kudus di Gereja Paroki Keluarga Kudus Cibinong dengan menyewa truk.

Pelayanan Pastoral umat perdana Stasi Matheus dilakukan oleh Romo R.J. Koesnen OFM.

 

 

 

 

Perkembangan jumlah umat telah menuntut pendampingan pembinaan iman yang serius. Dalam suasana yang serba darurat, “gereja diaspora” ini berusaha terus untuk menjadi gereja yang mandiri. Warga Katolik yang bermukim di Perumnas Depok II Tengah kemudian mendapat fasilitas tanah untuk pendirian rumah ibadat, seluas 1000 m2, di ujung persilangan Jalan Sadewa dan Jalan Nakula.

 

 

 

1980-1985 Mulai membangun gereja dan menjadi stasi

 11 Januari 1980

 

 

Peletakan batu pertama pembangunan Gereja St. Matheus oleh Rm. J. Suparman Pr, Vikjen Keuskupan Bogor.

Panitia Pembangunan Gereja Bp. S. Pranoto (Ketua), Bp. G. Sudibyo (Bendahara), Bp. JH. Sarif (Seketaris).

Status Lingkungan St. Matheus ditingkatkan menjadi Stasi St. Matheus Depok II Tengah.

Kelompok umat berubah menjadi Lingkungan I St. Petrus, Lingkungan II St. Paulus, Lingkungan III St. Ignatius, Lingkungan IV St. Yohanes, dan Lingkungan V St. Gregorius Agung (merupakan pemecahan dari Kelompok I).

 


29 September 1985

Mgr. Ignatius Harsono
Mgr. Ignatius Harsono

 

 

 

 

 

Mgr. Ignatius Harsono Pr, Uskup Bogor, memberkati dan meresmikan gedung gereja St. Matheus.

Pelayanan pastoral umat masih dilakukan bergiliran oleh para pastor dari Depok Lama, Cibinong, dan  Bogor.

 

 

 

 

 

1988-1994 Bertambahnya jumlah lingkungan, mulai punya Buku Baptis

 

17 Juni 1988

 

Lingkungan VI St. Perawan Maria, meliputi kompleks pemukiman Griya Lembah Depok, Mutiara Depok, Pondok Sukmajaya, Depok Asri, Gema Pesona, Cilodong, Cikumpa, Swatama, Kebon Duren, Persahabatan, Pondok Rajek, Alam Indah, dan Puri Mulia.

 

Tahun 1994

Lingkungan yang luas ini dipecah menjadi dua: Lingkungan VI St. Perawan Maria hanya meliputi perumahan Griya Lembah Depok, Pondok Sukmajaya, dan Mutiara Depok dan Lingkungan VII St. Joseph. Kemudian dibentuk juga Lingkungan Elizabeth.

 

1989 – 1993

 

Romo Diaz Viera SVD Pastor Paroki Cibinong, menyiapkan langkah kemandirian stasi di kawasan utara, yang didukung oleh umat setempat maupun oleh Uskup Bogor.

Romo J. Hardono Pr, ditugaskan menyiapkan Stasi St. Matheus, sebagai Pastor Kapelan yang menetap berdomisili di tengah umatnya langsung. Pendataan dan pendaftaran umat mulai dilakukan dengan lebih baik.

 

14  Februari 1993

 

Uskup Bogor memperkenankan Stasi St Matheus memiliki BUKU BAPTIS sendiri, menjadi tanggal baptisan pertama yang dilakukan di wilayah Stasi St. Matheus dalam buku sendiri, sebelumnya dicatat di Paroki Keluarga Kudus, Cibinong.

 1993 – 1994

 

Pastor yang menetap berikutnya adalah Rm. Agustinus Surianto Pr, yang bertugas di sini hanya sembilan bulan sepuluh hari (11 Sept 1993 – 21 Juni 1994) karna kemudian ditugaskan oleh Mgr. Leo Soekoto SJ, Administrator Apostolik Keuskupan Bogor, untuk menjadi Ekonom Keuskupan Bogor dan Direktur Percetakan GMY di Bogor.

Penggantinya adalah Rm. Anton Dwi Haryanto Pr, Imam muda yang baru saja ditahbiskan tanggal 11 Juni 1994. Romo Anton kelahiran Rangkasbitung seorang pastor yang ramah yang berhasil menjalin relasi yang baik dengan masyarakat di sekitar gereja, mencoba menghadirkan gereja sebagai “pembawa damai” di tengah-tengah masyarakat.

 

Perjalanan dari Stasi menjadi sebuah Paroki tidaklah mudah. Stasi St. Markus Depok Timur, telah lebih dahulu menjadi Paroki. Agak ganjil kelihatannya, Pertama karena kedua Stasi terletak dalam satu kecamatan yang sama. Kedua, ketika Depok Timur menjadi Paroki, ia memotong Paroki Keluarga Kudus Cibinong menjadi dua bagian yang terpisah, dengan menyisakan Depok Tengah di ujung baratnya, yang berbatasan dengan Paroki St. Paulus Depok Lama.

Gembala yang mendapat tugas membidani proses metamorfosa Stasi Depok Tengah menjadi Paroki Depok Tengah adalah Rm. Thomas Saidi Pr, yang bertugas sejak 25 Januari 1998, sedangkan Pastor Paroki Cibinong saat itu Rm. A. Adi Indiantono Pr. Ketua Dewan Stasi adalah Bp Marcellus Rantatena.

 

 

Resmi menjadi paroki

 11 Juni 2000

Mgr. Michael Angkur
Mgr. Michael Angkur
 

Pada Hari Raya Pentakosta, umat Stasi Depok Tengah mendapat hadiah besar, ketika Mgr. Michael Angkur OFM meningkatkan status Depok Tengah menjadi Paroki St. Matheus, Depok Tengah. Bapak M Roeswanto menjadi ketua panitia dalam acara peresmian paroki ini, dengan mengusung tema Persatuan dalam Persaudaraan

   

 

 

 

Dengan perubahan status menjadi paroki, Rm. Thomas Saidi mulai membentuk wilayah. Wilayah Agustinus mencakup Lingkungan St. Yohanes, Lingkungan St. Yakobus dan Lingkungan St. Gregorius Agung. Wilayah St. Andreas mencakup Lingkungan St. Petrus, Lingkungan St. Paulus dan Lingkungan St. Ignatius. Wilayah St. Anna mencakup Lingkungan Lingkungan St. Perawan Maria dan St. Elizabeth. Wilayah St. Antonius mencakup Lingkungan Lingkungan St. Yoseph dan St. Fraciscus Xaverius.

 

 Peresmian Gedung Gereja Baru & Perayaan 1 Dasawarsa Paroki Matheus

 19 September 2010

 

 

Yang Mulia Bapa Uskup Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur meresmikan bangunan Gereja Paroki St. Matheus bertepatan dengan Perayaan Satu Dasawarsa Paroki St. Matheus dan Pesta Nama St. Matheus pelindung gereja.

 

(disarikan dari Buku “Dari Stasi ke Paroki, Gereja Katholik St Matheus Depok Tengah, Juni 2000 dan Wawancara dengan Bp. M Roeswanto, Mei 2021)

 

PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA SANTO MATHEUS

Tahap awal yang penuh tantangan

Februari 2003 Rm. Robertus Eeng Gunawan Pr, Pastor Paroki bersama tokoh umat dan ketua lingkungan membentuk Panitia Pembangunan Gereja (PPG) dengan susunan panitia inti:

Bp. Marcellus Rantetana (Ketua), Bp. G. Sudibyo (Wakil Ketua), Bp. YB. Mujiono (Sekertaris) dan Ibu Maria Agnes Sri Suharti (Bendahara). PPG kemudian mulai membuat gambar dan rencana kerja tetapi sempat non aktif karna terhambat masalah perijinan dan IMB.

2006 – 2010 Awal 2006 Pastor Paroki Rm. B. Gatot Wotoseputro Pr, dengan bantuan ibu Theresia Ekaningsasi salah seorang umat, Gereja Santo Matheus mendapat Izin Mendirikan Bangunan dengan Nomor 645.8/67/IMB/DTB/2006 dari Pemerintah Kota Depok tertanggal 12 April 2006.

Proses pembangunan Gedung mengalami berbagai dinamika, sempat vakum beberapa bulan, sementara dalam jangka waktu 6 bulan sejak perijinan IMB dikeluarkan kegiatan lapangan sudah harus dimulai, jika tidak maka IMB bisa dibatalkan.Kemudian pembangunan gedung gereja dipercayakan kepada salah seorang umat dan peletakan batu pertama dilakukan pada bulan Agustus 2006, namun tahap pertama pembangunan ini tidak berjalan mulus karena terjadi kesalahan pondasi konstruksi bangunan, Misalnya teknik penyambungan besi beton yang menurut mereka tidak lazim dan tidak aman, kedalaman fondasi yang tidak memadai, dan beberapa hal lainnya. Untuk menyikapi hal ini, panitia kemudian menghubungi Ir. Ali Subandi yang sudah berpengalaman membangun Gedung pabrik dan salah satu gedung gereja di kota Depok. Setelah beberapa pertemuan kemudian disepakati untuk menggunakan konstruksi baja, karna pertimbangan prosesnya lebih cepat dan kekuatannya sangat terukur, namun diperlukan sejumlah dana yang cukup besar yaitu Rp200 juta untuk membeli tiang-tiang baja.

Panitia kemudian menggalang pengumpulan dana pembangunan dari umat dan sejumlah donatur pribadi. Ir. Ali juga memberikan kemudahan dalam pengadaan tiang-tiang baja yang dapat dibayar secara bertahap tanpa harus dilunasi dimuka. Awal 2007 tiang mulai didatangkan dan pondasi lama sebelumnya sebagian tetap digunakan tetapi dengan diberi tambahan kekuatan dengan sistim pasak bumi, sedangkan beberapa tiang lain terpaksa harus dirobohkan karena tidak dapat digunakan.

 

Penggalangan Dana

Estimasi dana yang diperlukan untuk membangun gereja saat itu adalah Rp 3 milyar, suatu jumlah yang tidak terbayangkan oleh panitia melihat kemampuan yang ada. Namun dengan penuh keyakinan bahwa yang akan dibangun adalah Rumah Tuhan Penguasa Alam Raya, panitia tetap merasa optimis untuk terus melangkah maju, karena tiada yang mustahil bagiNya.

Berbagai usaha menggalang dana dari dalam dan dari luar paroki dilakukan. Dari dalam paroki: diadakan kolekte kedua, membuat Kartu Khusus Pembangunan (kartu pink) oleh umat lingkungan yang dikumpulkan setiap bulan dan diletakkan kotak pembangunan di pintu gereja pada setiap Misa minggu. Usaha lain melakukan undian berhadiah dengan “kupon kasih” yang disebarkan baik di kalangan umat sendiri maupun di luar paroki.  Dilakukan juga usaha melelang gambar dan lukisan pada malam perayaan khusus. Serta pernah juga dipanggil beberapa artis terkenal untuk konser amal di Gereja, diantaranya: Artis Grace Simon, Yan Berlin, Victor Hutabarat.

Untuk menggalang dana dari luar paroki dilakukan acara “ngamen”, yaitu kelompok koor paroki Matheus yang bernyanyi ke paroki-paroki di wilayah Keuskupan Bogor dan Keuskupan Agung Jakarta sambil mengedarkan amplop dan kotak sumbangan. Untuk mempersiapkan kunjungan ke paroki-paroki, koor paroki Santo Matheus yang melibatkan anggota-anggota koor tua-muda dari semua lingkungan mulai giat berlatih dibawah pimpinan Bp. Fabian Kumaunang.

Perjalanan “Ngamen” mencari dana cukup panjang:

  1. Kunjungan koor ke Paroki Santo Paulus Depok 4 dan 5 Agustus 2007
  2. Kunjungan koor ke Paroki Santo Fransiskus Sukasari Bogor 20, 21 Oktober 2007
  3. Kunjungan koor ke Paroki Santo Yusuf Sukabumi 10, 11 November 2007 (kunjungan ini cukup seru karna anggota koor dan petugas lainnya berangkat sehari sebelumnya dengan bermalam di wisma susteran Sukabumi)
  4. Kunjungan koor ke Paroki Santo Markus Depok Timur, 2 dan 3 Februari 2008
  5. Kunjungan koor ke Paroki Santa Perawan Maria Kathedral Bogor, 3 dan 4 Mei 2008
  6. Kunjungan koor ke Paroki Santo Matias Cinere, 10 dan 11 Mei 2008
  7. Kunjungan koor ke Paroki Keluarga Kudus Cibinong, 3 Agustus 2008
  8. Kunjungan koor ke Paroki Santo Thomas Kelapa Dua, 1 Desember 2009.
  9. Kunjungan koor ke Wilayah Keuskupan Agung Jakarta pertama dimulai di Paroki kapel Kanisius, 24 September 2006
  10. Kunjungan koor ke paroki Santo Paskalis 7 Oktober 2007
  11. Kunjungan koor ke 6 paroki lainnya yaitu Kristus Salvator 4 November 2007, Santa Helena Karawaci, Santa Monica BSD 14 & 15 Juni 2008, Santo Bonaventura Pulomas 23 & 24 Agustus 2008, Santo Yohanes Penginjil 20 & 21 September 2008, Santo Andreas 11 & 12 Oktober 2008, Ibadat di Wisma Mulia 6 Februari 2009, dan paroki Kristus Raja Serang 17 & 18 Oktober 2009.

Dari kunjungan ke beberapa paroki di wilayah Bogor dan wilayah Jakarta, berhasil dikumpulkan dana 709.939.200 rupiah, jumlah yang sangat besar yang menunjukkan kepedulian umat terhadap pembangunan Rumah Tuhan.  Jerih payah anggota koor yang secara tekun terus berlatih tanpa mengenal lelah tidak jarang sampai larut malam di rumah Keluarga M. Roeswanto, juga sungguh membuahkan hasil. Selain itu kunjungan ke paroki-paroki tersebut tidak jarang merupakan pengalaman menarik. Beberapa kali rombongan koor dan petugas kolekte sampai di gereja yang dikunjungi ternyata pintu gerbang masih tertutup rapat karena hari masih gelap, saking semangat dan takut terlambat. Namun semangat anggota koor, para petugas kolekte termasuk anggota misdinar yang ikut serta, tidak surut menghadapi berbagai tantangan (seperti harus menahan perasaan menghadapi beberapa umat yang bersikap acuh dan bahkan menolak brosur dan amplop) demi terbangunnya gedung gereja yang diidamkan.

Sumber dana lainnya adalah bantuan Donatur luar sebesar 1,4 milyar, Iuran lingkungan 550,2 juta, Donatur internal paroki 363, 5 juta, Kolekte pembangunan 371,2 juta, Kotak dana pembangunan 13,2 juta, Undian kupon kasih 90,4 juta, dan Penjualan barang bekas 11,4 juta. Sampai saat akhir pembangunan, jumlah total dana yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 3.509.485.121 selain Sumbangan material dalam bentuk keramik, semen, pasir, kabel listrik, pasir, dan beberapa sumbangan natura lainnya. Dana-dana tersebut kemudian digunakan untuk berbagai keperluan. Adapun pengeluaran terbesar adalah pembelian material sebesar Rp. 2.838.509.987, Upah tukang 488,04 juta, Peralatan inventaris 160.8 juta, dan Pengeluaran lain-lain 47.2 juta. Dengan demikian nilai gedung gereja yang berhasil dibangun kurang lebih 4 Milyar Rupiah, yang cukup jauh di atas perkiraan awal.

 Proses Pembangunan: Dari umat oleh umat untuk umat

Ketika kegiatan fisik mulai dilakukan baik oleh pelaksana pertama maupun oleh Ir. Ali Subandi, tidak ada detail design awal sebagai pedoman pelaksanaan, dengan pertimbangan agar setiap bagian penting dari bangunan gereja selalu mendapat masukan dari berbagai pihak sebelum dikerjakan.

Contohnya ketika akan menentukan bentuk dan luasnya panti imam, pembuatan ruang bawah tanah (basement), tempat koor, luas balkon, bahan kusen pintu dan jendela, pemasangan glass box, bentuk plafon dan hal lainnya. Ketika panti imam akan dibuat, ada yang berpendapat sebaiknya setengah lingkaran, namun ada yang berpikir sebaiknya segi empat supaya serasi dengan bentuk gereja secara keseluruhan.  Sedangkan ketika basement akan dikerjakan ada yang berpendapat cukup seadanya, tetapi ada pula yang berpendapat sebaiknya ruang yang cukup besar untuk berbagai kegiatan. Ada juga yang ingin memasang banyak glass box supaya lebih banyak sinar masuk dalam ruang gereja, akan tetapi ide tersebut tidak didukung oleh yang lain dengan alasan keindahan.

Pola kerja ini disebut “bulding ship while sailing” atau membangun perahu sambil berlayar, tentu saja ada plus minusnya. Kelemahannya adalah kadang bagi umat tidak jelas panitia sedang bergerak ke arah mana, dengan keputusan yang kelihatannya samar-samar. Namun keuntungan dari pola kerja ini ialah semua ikut berkontribusi dalam proses pembangunan termasuk perancangannya. Dengan demikian produk akhir sungguh-sungguh merupakan hasil pemikiran bersama.

Hal yang tidak kalah menarik dan ada perbedaan pendapat adalah ketika struktur utama sudah selesai kemudian soal bagaimana memutuskan bahan kusen pintu dan jendela, apakah akan mengggunakan aluminium, jati, kamper, atau lainnya. Demikian pula mengenai bentuk dan desain pintu, jendela, juga gambar 14 perhentian jalan salib merupakan bahan perdebatan yang cukup seru. Namun puji Tuhan semua perbedaan pendapat pada akhirnya selalu diselesaikan dengan musyawarah dan keputusan bersama, sekalipun kadang-kadang untuk itu dibutuhkan lebih dari satu pertemuan. Apabila kesepakatan sudah dicapai dan keputusan sudah diambil semua pihak menerima putusan tersebut tanpa ada yang merasa dikalahkan. Tidak ada yang mutung karena semua bisa melihat kepentingan yang lebih besar. Kesamaan visi ini yang membuat panitia dapat bertahan sampai akhir.

Selain kesibukan merancang dan mengikuti jalannya proses pembangunan, panitia juga seringkali harus berpikir keras mencari jalan supaya arus kas tetap berjalan. Cukup sering Ir. Ali Subandi harus menalangi biaya konstruksi yang sedang berjalan, dengan memberikan kelonggaran kepada panitia untuk membayar secara bertahap bahan-bahan yang sudah digunakan. Demikian pula dengan material lainnya seperti pasir, semen, batu merah dan sebagainya yang dibayar secara bertahap kepada toko bangunan yang sudah menjadi langganan.

Namun sempat pada awal 2008 kegiatan lapangan harus benar -benar dihentikan secara total selama kurang lebih dua bulan, karena utang material panitia kepada Ir. Ali sudah begitu besar sehingga beliau tidak memungkinkan lagi memberikan tambahan utang sebelum utang yang lama dibayar sebagian. Ketika itu panitia betul-betul kehabisan uang. Panitia kemudian berkumpul untuk mecari jalan keluar. Akhirnya disepakati untuk meminjam tanpa bunga kepada anggota panitia dan kepada beberapa umat yang mempunyai kelonggaran keuangan. Dari upaya ini terkumpul dana 300 juta rupiah lebih yang kemudian diserahkan ke Ir. Ali untuk membayar sebagian utang dan membeli bahan-bahan baru. Setelah itu kegiatan pembangunan berjalan lagi. Semua dana pinjaman tersebut sudah dikembalikan dalam 20 kali pembayaran.

Mungkin dengan kejadian ini Tuhan hendak menguji kesungguhan dan daya tahan panitia, seperti ketika Yesus bertanya kepada Petrus “Apakah engkau mencintai Aku?”  Karena tantangan itu, sejumlah gereja yang sudah dikirimi surat kemudian menyatakan kesediaan mereka untuk didatangi, sehingga pencarian dana dilanjutkan kembali dan secara perlahan dana mengalir masuk. Demikian pula dengan bantuan-bantuan lain yang mulai berdatangan, sehingga sampai menjelang penyelesaian pembangunan panitia tidak pernah lagi mengalami kesulitan keuangan yang serius.

 

Di sini terlihat pula kebesaran hati dari masing-masing pihak untuk bersedia memberi dan menerima terhadap pihak lain dan berproses bersama. Sehingga pada tahap akhir semua dapat merasa mempunyai kontribusi nyata dalam hasil akhir yang dicapai. Terpujilah Tuhan

 

 

 

 

 

(disarikan dari tulisan Marcellus Rantetana – Ketua Panitia Pembangunan Gereja)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here