DIALOG KEBANGSAAN Gereja Berkatekese: Mewujudkan 100% Katolik, 100% Indonesia

Katekese Kebangsaan 

Sabtu 28 Januari 2023 pukul 10.30 masih dalam suasana Imlek yang mendung gerimis tanda rejeki melimpah, di Aula Maria Goreti Gereja Santo Matheus Depok diadakan Forum Dialog Kebangsaan yang diadakan oleh Seksi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAAK) Bidang Sosial Kemasyarakatan/ Martyria Paroki Santo Matheus, dihadiri oleh 75 orang umat paroki dan orang muda, wakil paroki St. Markus, St. Thomas dan St. Paulus, wakil partai,  FKUB, Bimas Katolik Depok serta tim Komsos Joannes Baptista Parung. Prof. Drs  Adrianus Meliala akademisi, pakar kriminologi dan sekaligus Wakil DPP Paroki St. Thomas pun turut hadir memberikan dukungan pada acara ini.

Diawali dengan doa dan pembukaan oleh MC Sdri. Hotnita, kemudian ketua panitia acara ini Sdri. Franciska Dhita Wedhayanti menjelaskan latar belakang diadakannya acara ini yaitu Surat Gembala Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM. berjudul Gereja Sinodal Berkatekese tentang Katekese dan Keindonesiaan, dimana dalam konteks tahun politik, katekese kebangsaan menghantar semua umat untuk memperkuat spiritualitas keindonesiaan dalam sikap dan tindakan dasar memperkokoh persaudaraan sebangsa setanah air berdasarkan Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Katekese kebangsaan mesti mengajarkan kepada umat bahwa iman mesti menggerakkan dirinya untuk aktif dalam menentukan keberlangsungan hidup bernegara untuk kepentingan bersama (Bonum Commune). Maka acara ini diadakan,salah satunya, untuk katekese kebangsaan tersebut agar membuka mata umat akan kesadaran partisipasi politik. “Mari berpolitik!” demikian Mbak Wedha menutup sambutannya. Sebelum masuk kepada pemaparan, moderator acara ini Bapak Tomi Aryanto – yang merupakan wartawan senior dan juga Wakil Dewan Pastoral Paroki St. Matheus – membacakan CV singkat ketiga narasumber.

Gereja Katolik berkatekese – RD Dionysius Manopo, Pr.

Katekese adalah pengajaran iman yang diajarkan gereja kepada umat dalam seluruh aspek kehidupan. Dari pembinaan iman anak, remaja, kaum muda, juga pengajaran tentang liturgi dan kitab suci, hingga hubungan dengan sesama yang berbeda keyakinan. Seksi HAAK adalah bagian dari pengajaran gereja Katolik bahwa iman bukan hanya dimensi vertikal dengan Tuhan tapi juga ada aspek horisontal terhadap sesama. Salib adalah dua palang, ke atas yang berarti hati dan pikiran buat Tuhan, dan yang ke samping berarti tangan bekerja dan melayani sesama.

Ada istilah Tipologi dalam kitab suci, yang berarti apa yang terjadi di masa lalu terulang di masa depan dalam bentuk berbeda tapi dengan makna yang sama. Misalnya dalam Perjanjian Lama, air dalam bentuk air bah didatangkan untuk membersihkan umat yang penuh dosa dan kebusukan. Dalam Perjanjian Baru, air dalam bentuk air baptisan juga menjadi sarana pembersihan dan pemurnian dari Tuhan untuk umatNya agar dekat kembali kepada Allah.  Tipologi lain adalah perempuan dalam PL yaitu Hawa yang terjebak jatuh dalam dosa dan tertipu setan, maka dalam PB yaitu Bunda Maria menjadi perempuan yang menaklukan tipudaya setan dengan menginjak ular di kakinya dan membuka jalan bagi datangnya rahmat keselamatan. Keselamatan melalui salib, yaitu peristiwa sabda yang menjadi daging adalah wujud iman yang inkarnatif. Umat Katolik harus menjadi pribadi yang menyejarah, hadir dan terlibat sebagai pribadi yang bekerja dan berkarya. Tangan yang terbuka, bukan tangan terkatup. Iman bukan hanya terwujud dengan setiap minggu ke gereja, tapi bagaimana iman bekerja dan berbuah bagi sesama. Moderator menutup paparan nara sumber pertama dengan pernyataan yang dalam bahasa arab dan pandangan agama Islam: Hablum Minallah yaitu hubungan dengan Allah dan Hablum Minannas yaitu hubungan dengan sesama manusia, bahwa cinta kepada Tuhan diwujudkan dengan kasih kepada sesama.

Imajinasi Nasionalitas – Ade Armando

Datang dari keluarga Minang, sejak menjadi mahasiswa di FISIP UI Ade Armando aktif di kegiatan mushola kampus dan menjadi mahasiswa yang aktif berjuang khususnya konteksnya waktu itu untuk melawan rezim Soeharto dengan mendirikan Forum Studi Islam dengan banyak kajian di antaranya “mana lebih dulu Islam atau Indonesia?”. “Indoktrinasi bahwa Islam telah ada lebih dahulu baru kemudian Indonesia, menjadi sesuatu yang mengganggu pikiran saya,“ ujar bang Ade. Karena berbagai gerakan Islam ini seperti mencerminkan inferiority compleks, yaitu perasaan minder karena kalah. Sejarah memang sepertinya membentuk Islam yang terpinggirkan dari sebelum tahun 1945 dijajah Belanda, lalu jaman pergerakan dihajar oleh Bung Karno, kemudian masa Orde Baru pasca tahun 1965 tidak bisa bebas berpartai karena diminta bergabung menjadi hanya tiga partai. Khalifah Usmani atau Kekaisaran Turki pun dihajar Barat (Kristen) hingga kalah, maka Islam saat itu menjadi kalah secara politik, juga ekonomi.

Namun dari pendekatan Sosiologi, seorang individu atau suatu masyarakat  tidak dilihat kalah karena tertindas, tapi kalah karena tidak berjuang mengatasi kekalahan. Teori David McClelland “need for achievement” mengatakan bahwa tanpa keinginan untuk meraih sesuatu, maka tidak ada perjuangan untuk meraih keberhasilan. Umat Islam dalam hal ini juga dunia ketiga harus membangun kebutuhan to achieve something agar bisa berjuang untuk lebih produktif, aktif dst. Dalam diri saya selalu ada keinginan tidak boleh kalah dan ditindas, saya selalu belajar kepada manusia yang sukses atau negara yang maju, itu bagaimana caranya. Sayangnya, bagi umat Islam yang minoritas secara politik dan ekonomi diterjemahkan menjadi pandangan bahwa kita kalah karena dizalimi, ada konspirasi yang mengalahkan kita, dan sejenisnya hingga yang terbentuk adalah semangat kami lawan mereka, us against them, we against you. Karena itu tidak ada istilah 100% Islam 100% Indonesia, yang ada hanya 100% Islam saja, bahwa kita menjadi Indonesia itu hanya karena kita tinggal disini saja, maka tidak ada konsep nation.

Benedict Anderson dalam buku Imagined Communities merefleksikan bahwa Nationality only imagination. Saya dan anda bersaudara bukan karena hubungan darah atau kerabat atau kampung tapi karena kita sama-sama bangsa Indonesia, namun konsep harus dibangun dulu imajinasinya. Nusantara dulu berawal dari Sriwijaya, Majapahit, Pagaruyung hingga di tahun 1928 kita mengingatkan diri dalam ikrar satu nusa satu bangsa, one nation yang sama-sama di jajah Belanda. Nah, sayangnya, orang yang inferior kompleks bukannya berusaha lebih baik untuk menang tapi dengan membentuk imajinasi melawan penindas Barat, Kristen, Zionis, Cina, dst. Dengan membentuk ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Islam yang bersatu melawan ketertindasan dengan membenci lawannya. Sejak saya bilang persaudaraan tidak dibentuk dari ideologi dan agama Islam saja tapi dari semangat dan imajinasi nasionalitas yang sama, maka saya yang dulu anak musholla dan mendirikan FSI tapi sekarang dipecat, dibilang kafir dan murtad.

Tahun depan 2024 adalah kewajiban kita untuk menyelamatkan Indonesia, mari masing masing bekerja diposisinya. Presiden yang baik baru ½ jalan, tapi  ½ jalan berikutnya adalah isi parlemen yang pintar dan tercerahkan. Maka pilihlah orang-orang parlemen yang sama berkualitas dengan presidennya. Imajinasi nasionalitas, bangsa kita adalah satu harus disuarakan dimana-mana dari medsos, wacana publik, lingkungan RT RW gereja dimanapun. Saya mendirikan Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) untuk pesan persaudaraan dan keberagaman, tidak ada mayoritas dan minoritas. Kita harus fight bersama. Terimakasih. Semoga Tuhan membantu kita.

Politik itu baik! – Grace Natalie

Politikus suka beda antara camera-on dan camera-off. Nggak konsisten! Begitu pengalaman saya saat menjadi wartawan dan presenter TV selama 8 tahun, ujar Grace Natalie. Saya tidak suka politik saat itu, namun sejak bekerja dan menjadi CEO di lembaga riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) saya tercebur ke politik karena di situ saya terpapar pengalaman politik praktis. Saya sadar tiket dan mahar untuk mendapat dukungan itu mahal.  Ongkos politik sangat besar. Namun tanpa diduga, Tuhan kasih keberanian dan memberikan yang kita butuhkan tepat pada waktunya. Saat kami menentang perda agama, kami dilaporkan Eggi Sudjana saya terancam ditahan polisi, diinterogasi, dari situ saya menjadi berani.

Cerita dari Bantaeng. Grace bertanya kepada forum “Apa yang terbayang saat yang bilang politik?” Peserta menjawab: Kepentingan, mahar, uang, dukungan, korupsi, kotor. Pendiri Partai Solidaritas Indonesia ini kemudian menayangkan beberapa slide tentang Kabupaten Bantaeng di Sulawesi Selatan. Pada tahun 2017 bupatinya adalah Prof. Nurdin Abdullah ahli kehutanan yang berbisnis furniture eksport ke Jepang. Beliau membangun bendungan dam, fasilitas jalan raya, pantai Seruni, tempat pelatihan tenaga kerja anak muda agar tidak keluar dari kampungnya, membuat program jumat bersih, perhatian dan budget pada Forum Kerukunan Umat Beragama, serta membangun fasilitas kesehatan dengan RS dan ambulance yang sangat baik. APBD Bantaeng sangat kecil maka Pak Bupati mencari dana investor dari Australia, hibah kementerian, juga bantuan pemerintah Jepang dalam hal fasilitas RS.  Bantaeng menjadi kota yang bersih dan maju,  dengan layanan kesehatan dan kesejahteraan keluarga yang meningkat. Bantaeng membangun smelter, dengan lahan disediakan, ijin dipermudah, tenaga kerja lokal yang terlatih disiapkan. Dari paparan ini kita bisa menyimak bahwa Politik bisa mendatangkan: kebaikan, menentukan kebijakan, membentuk kreativitas dan seni untuk mengatasi keterbatasan dan kemiskinan. Ini semua berkat kebijakan yang baik dari politik.

Politik harus masuk ke keluarga, lingkup agama hingga terutama ruang publik. Kita harus update dan mengkritisi kebijakan pemerintah khususnya mengenai anggaran.  Salah satu kader partai, Anthony Winza Prabowo mempunyai pengalaman dari sebagai ketua pemuda gereja, pindah berkarya ke gedung dewan DPRD DKI Jakarta, karena menurutnya “jika gereja sudah banyak garam kita harus cari tempat lain yang belum asin, menjadi terang di tempat gelap”. Dalam suatu rapat pertanggungjawaban APBD DKI Jakarta dia menolak dan berargumen keras tentang fakta-fakta penyimpangan anggaran yang terjadi, yang tentu saja ditentang banyak fraksi dan pimpinan sidang, tapi kebenaran sudah diungkapkan, masyarakat berhak tahu. Maka siapapun yang cinta Indonesia, harus melirik masuk ke pelayanan publik ini, karena diperlukan  orang – orang dengan keimanan yang kuat dan rasa takut akan Tuhan, apapun agamanya.

Grace Natalie sama-sama mengajak peserta dialog saat itu untuk membaca bersama Yeremia 29: 7 yaitu “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.. Mari iman tidak hanya sekedar hubungan dengan Tuhan, tapi bagaimana mengusahakan kesejahteraan masyarakat. Semoga semakin banyak anak Tuhan yang masuk pelayanan publik, ujarnya.

Tanya Jawab Peserta

Sesi TJ diwakili oleh 2 penanya: Bapak Robin Hutapea – HKBP Depok Timur dan Sdr. Khansa – OMK dari St. Markus Depok Timur. Secara singkat 2 pertanyaannya: Pertanyaan pertama: Umat minoritas mendapatkan banyak halangan dalam mendapat ijin mendirikan fasilitas rumah ibadah dan baru-baru ini di Bogor terjadi larangan ibadah Natal. Apakah akan begini terus menerus, siapapun gubernur dan presidennya? Pertanyaan kedua: Apa definisi berpolitik di tengah keberagaman Indonesia sekarang ini?

Tanggapan Ade Armando: Politik praktis menurut Harold Lasswell adalah Who Gets What, When, How bisa dikatakan demikian jika tujuan berpolitik direduksi hanya untuk mendapatkan sesuatu, misalnya menjadi anggota DPR karena dapatnya banyak bahkan terima pensiun sampai mati. Tapi lebih dari itu politik harus tentang good governance, how to govern, bagaimana mengatur kepentingan orang banyak. We have to go into politics atau paling tidak dukunglah orang-orang baik di politik. Memang kondisi tidak baik-baik saja, memang harus ada yang diupayakan dan harus ada perlawanan. Semua orang harus berpolitik dalam kapasitas dan bidangnya masing masing, makanya kita harus berjuang bersama. Dalam Islam ada ”Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah sendiri keadaannya”, jadi jawaban saya kalau kita diam akan terjadi terus, makanya kita harus berjuang. Tidak ada jaminan hidup akan selalu menang tapi ya harus tetap berjuang.

Tanggapan Romo Dion: Politik yang ingin kami tekankan adalah bagaimana umat Katolik berpastisipasi dalam ruang publik, seperti contoh anggota DPRD Anthony tadi yang mengupayakan kebaikan bagi orang banyak dengan cara hadir, top down dalam mengawal kebijakan. Bagi kita kemudian secara bottom up dari lingkungan di sekitar kita menghadirkan politik praktis yang baik. Misalnya: waktu pandemi varian virus delta dan omicron kemarin, kita umat katolik dalam lingkungannya saling memperhatikan sesamanya agama apapun yang terdampak, dengan cara membantu makanan, obat, dll. Santo Maksimilianus Maria seorang martir di jaman holocaust beliau mengajukan diri menggantikan seorang Yahudi yang akan dibunuh. Menurutnya, dosa terbesar dari orang beriman adalah sikap tidak peduli. Sikap tak acuh bukan pilihan politik umat Katolik. Maka kami mendukung umat yang mau aktif dalam ormas dan organisasi politik. Contohnya pemuda katolik. Sdri. Eveline Cabuy Ketua Pemuda Katolik Komcab Depok, Romo mengucapkan terima kasih sudah datang dan sudah berkarya di organisasi ini.

Tentang perda yang agamis di Jawa Barat.  Melihat pengalaman mengikuti dinamika tahun 2018 kemarin umat Katolik di level bawah semangat saat mencoblos pemilihan capres, tapi waktu pemilihan DPRD, partisipasi malah menurun jauh. Nah di situ kita belum peduli, padahal yang secara kongkrit mengatur hajat masyarakat ya DPRD itu. Maka dalam katekese kebangsaaan, umat Katolik harus berpartipasi dari tingkat bawah RT-RW sekalipun.

Tanggapan Grace Natalie: Mengenai gereja yang susah mendapat ijin sudah menjadi perhatian kami. Kami sedang menyiapkan gugatan terhadap FKUB, bukan menggugat keberadaannya tapi kebijakannya dalam memberikan rekomendasi. Karena rekomendasinya menjadi dasar kepala daerah dalam membuat kebijakan. Kami sedang mengumpulkan berbagai kasus kesulitan pendirian tempat ibadah, untuk semua agama di semua daerah. Tidak hanya gereja atau pura, karena ada juga masjid yang sulit dibangun di daerah mayoritas non muslim. Tirani mayoritas selalu ada dimana-mana. Berpolitik tidak hanya masuk partai dan DPRD tapi ya ikut mengawal dari bawah. Ikutlah dari pemilihan RT,RW, LMK. Tugas dan PR kita mengisi peran-peran dimanapun, khususnya kalau kita bisa mengupayakan posisi jabatan politik, maka informasi kita ada dan kita jadi tahu mesti ngapain, untuk mencegah dan mengatasi kesulitan. Itu benefit kalau kita terlibat posisi jabatan publik.

Mengenai banyaknya perda syariah, Michael Buehler dalam penelitiannya ‘the politics of shari’a law’  meneliti fenonema banyaknya perda syariah di Indnesia. Saya ingin menyambung Romo tentang pentingnyaposisi yang paling bawah karena UU Otonomi Daerah membuat pemimpin di bawah menjadi berkuasa penuh. Menghadapi berbagai kasus misalnya tentang busana muslim, kebijakan di sekolah umum, kita sebagai umat Kristen/Katolik cuma bisa main defensif dan reaktif saja. Karena suara kita masih kurang, sementara di sisi sana yang mayoritas dan militan selalu hadir dalam rapat dan memperjuangankan banyak kebijakan. Kita sudah harus mengubah permainan kita karena bicara PSI terlalu kecil, tapi ini demi umat keseluruhan. Gelombang intoleransi makin besar. Contohnya menurut penelitian PPIM UI para guru dan pengajarpun sudah makin intoleran, 1/5 generasi milenial juga menganggap pancasila tidak relevan lagi…. Cara masuk politikus lewat peraturan, maka kita juga mesti masuk juga lewat peraturan. Level kabupaten kotamadya sangat penting karena berdampak bagi kehidupan kita.

Penutup

Romo Jimmy pastor paroki St. Matheus juga menyampaikan bahwa kita harus berpolitik partisipasi dari bawah sampai atas. Bukan cuma sebagai bentuk perlawanan, tapi sebagai bangsa kita harus memberikan penerus kita hal baik bagi mereka. Maka berkatekese dalam kebangsaan penting agar umat semakin sadar dan melek politik.

Kesimpulan moderator: 100% Katolik 100% Indonesia yang digaungkan Mgr. Albertus Soegijapranata SJ harus menjadi semangat kita. Terima kasih.

***

Get in Touch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Related Articles

Latest Posts